Mulak tu huta
Hari kepulanganku sebentar lagi, tadi pagi bapak iseng membangunkan aku untuk menanyakan aku jadi ikut pulang apa nggak.
“kau jadi pulang nggak sama opung?”
“jadi pak”.
“kalau begitu, sudah kau bereskan bajumu”? “sudah” jawabku.
setelah itu bapak pergi dan duduk di depan toko bengkelnya. seperti berpikir dan diam sedangkan aku pergi mandi untuk menyelesaikan skripsi kawan. ntah apa yang bapak pikirkan, pokoknya aku harus pulang.
sebenarnya sebelum pergi ingin sekali aku bertemu dengan Bang karo, B`AP, eds smart, dan teman-temanku. dan aku tau arti berpisah.
kembali teringat ucapan bapak dua hari yang lalu, ucapan yang menoreh luka, membuyaran harapan. dan ucapan yang membulatkan tekat ku untuk pulang.
“kau itu orang buangan” makanya kau di kirim ke kampung supaya gak ada yang pusing memikirkan kau. kau gak mau merubah sikap. selalu keras, masa bodo sama sekitarmu.
aku nggak perduli dengan status orang buangan. yang aku mau, menjauh dari kehidupan sekarang. sudah lelah didikte, aku tak perlu merubah sikap. aku sudah sering berubah, karena itulah nggak ku kenali lagi siapa diriku, tapi aku masih tahu diri. dan aku tak mau merubahnya.
dan akupun akan tau suatu hari nanti, dilain kesempatan, dengan hati dan perasaan yang mati. bahwa aku ingin bebas menentukan masa depan
Jika besok atau lusa atau kapanpun itu, aku tidak mampu menggoreskan kata di blog yang kumiliki ini, itu karena aku sedang melawan perasaan dan membohongi hati nurani, dan keadaan memintaku untuk menjauh…
Jangan mencariku, aku gak kemana mana, hanya istirahat … menyembuhkan luka.
1 Komentar »
Tinggalkan komentar
-
Terkini
-
Taut
-
Arsip
- Juli 2008 (4)
- April 2008 (3)
- Februari 2008 (2)
- Januari 2008 (12)
- Desember 2007 (12)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS

gak ngarti euy crita apa an yah…
lg mabok kale yah..cewe yg nulis nyah..apa lagi ngalindur ceuk org sunda mah…lieur ah..